Pagi itu, langit Aceh Timur, Provinsi Aceh tampak cerah. Awan berarak pelan, seolah ingin ikut menyambut perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 H, Minggu (7/9).Dari meunasah Desa Bayeun, suara shalawat menggema, merayapi udara dan menembus hati siapa pun yang mendengarnya.Warga berdatangan satu per satu. Pakaian terbaik mereka tampak berwarna-warni, membawa berkat, duduk bersila dengan wajah khidmat.Bau nasi minyak, kuah gulai, dan aneka kue khas Maulid bercampur dengan wangi dupa yang dibakar.Suasana penuh syukur itu menghadirkan hangat yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Namun ada sesuatu yang mencuri perhatian.Bukan panggung utama. Bukan pula tumpukan hidangan. Di halaman meunasah, berdiri sebuah perahu kecil.Perahu itu tegak, bukan di air, melainkan di tanah berpasir. Di dalamnya, ada sebuah mesin giling tebu sederhana.Setiap kali mesin itu diputar, air manis mengalir perlahan, jatuh ke dalam wadah plastik. Orang-orang menatap dengan heran sekaligus bahagia.Seorang anak kecil berlari ke depan, menengadahkan gelas plastik kosong di tangannya.“Pak, saya mau minum,” katanya polos.Lelaki yang menjaga mesin itu tersenyum. Dialah Iskandar, petani tebu dari Dusun Cot Kala, tangannya yang kapalan dengan sabar memeras batang-batang tebu.Air segar jatuh menetes, lalu memenuhi gelas kecil anak itu. Bocah itu pun meneguk dengan wajah ceria. “Manis, Pak! Enak sekali,” serunya.Orang-orang tertawa kecil. Sebagian ikut mengantre. “Silakan minum, ini rezeki Allah,” ucap Iskandar lirih.Kata-kata itu terdengar sederhana. Namun hati siapa pun yang mendengarnya jadi hangat.Anak-anak mulai mengantre panjang. Gelak tawa mereka mengiringi suara mesin giling yang berderit pelan.Para ibu meneguk air tebu itu dengan wajah sumringah. Sejenak, kelelahan menyiapkan hidangan Maulid terbayar lunas.
Kaum bapak menepuk bahu Iskandar satu per satu. Ada yang berbisik doa, ada pula yang hanya tersenyum haru.Semua merasa mendapatkan lebih dari sekadar minuman manis, Iskandar hanya menunduk. Ia enggan dipuji. Baginya, segelas air tebu bukanlah apa-apa.Namun di balik kesederhanaannya, ada niat tulus yang ia genggam erat. Sejak dua atau tiga tahun lalu, Iskandar sudah terbiasa berbagi air tebu gratis.Ia membagikannya kepada siapa saja yang lewat, terutama anak-anak, para janda, dan orang-orang yang sedang berduka.“Kalau ada yang bisa saya bagi, kenapa harus ditahan? Hidup ini bukan soal untung rugi,” ujarnya suatu ketika.Kata-kata itu melekat di benak banyak orang. Ia bukan orang kaya, bukan pula pengusaha besar. Sehari-hari, Iskandar hanya seorang petani tebu dengan penghasilan pas-pasan.Mesin gilingnya pun bukan mesin modern. Hanya rakitan seadanya, dirakit dengan susah payah dari tabungan kecilnya. Namun ia punya hati yang lapang, dan hati itu selalu penuh dengan niat berbagi.
Yang membuatnya unik, setiap kali menggiling tebu, Iskandar selalu menghias tempatnya. Kali ini, ia memilih bentuk perahu. Warga pun menamainya “kapal tebu”.“Lucu ya, kayak kapal betulan,” celetuk seorang anak sambil tertawa kecil.Gelak tawa itu membuat suasana Maulid semakin meriah. Namun di balik senyum Iskandar, tersimpan sebuah doa.Ia berharap Dayah Zawiyah Cot Kala—dayah tua yang dulu pernah jaya di Aceh—bisa bangkit kembali.“Kalau dayah itu hidup lagi, anak-anak kita bisa belajar agama lebih baik, dan warisan ulama tetap terjaga,” katanya lirih.Bukan untuk dirinya. Bukan untuk nama. Melainkan untuk generasi yang akan datang. Sore itu, matahari mulai turun di ufuk barat. Namun antrean di kapal tebu Iskandar tak kunjung sepi. Seorang bocah menepuk tangannya. “Pak, terima kasih. Manis kali air tebunya.”Iskandar menatapnya sebentar, lalu tersenyum. “Yang manis bukan air tebunya, Nak. Yang manis itu kalau kita bisa saling berbagi.”