
Setiap rumah memiliki ceritanya sendiri. Bagi sebagian orang, kenyamanan terletak pada luasnya ruangan atau kemewahan perabotan. Namun bagi saya, tempat ternyaman di rumah justru berada di sudut kecil yang sederhana pojok ruang tamu di dekat pintu yang menghadap ke taman.
Setiap pagi, cahaya matahari menyelinap lembut lewat celah tirai, menimpa meja kayu tempat saya biasa menaruh buku dan secangkir kopi. Di luar, suara burung bersahutan, sementara angin membawa aroma tanah basah dari pot tanaman di halaman. Di sanalah, setiap hari saya menemukan ketenangan yang sulit dijelaskan.
Sudut itu menjadi sanksi dari banyak hal tawa kecil saat menonton film, tangisan pelan ketika hari terasa berat, hingga momen hening ketika saya hanya bisa menatap langit sore tanpa berkata apa-apa. Tak banyak yang tahu, tapi dari kursi panjang itu, saya sering merenungi betapa rumah sebenarnya bukan sekadar bangunan, melainkan tempat untuk jiwa beristirahat.
Saya sempat bertanya kepada beberapa teman saya, di mana tempat ternyaman mereka di rumah. Ada yang menjawab di dapur, karena di sana aroma masakan membangkitkan kenangan masa kecil. Ada pula, yang memilih halaman belakang, tempat mereka menatap langit sambil mengistirahatkan pikiran. Semua jawaban berbeda, tapi memiliki makna yang sama: kenyamanan selalu lahir dari rasa memiliki.
Tempat nyaman di rumah tidak harus besar, tidak pula mahal. Kadang hanya sebuah kursi di ruangan atau lantai dingin di dekat jendela tempat kita menatap hujan. Yang membuatnya nyaman bukan bentuknya, melainkan kenangan dan kehangatan yang tumbuh di dalamnya.
Dan setiap kali saya duduk di sudut itu, menatap keluar dengan secangkir kopi di tangan, saya selalu merasa satu hal yang sama: di sinilah saya benar-benar pulang.