
Sang Jenderal yang Memimpin dari Tandu
Di tengah hutan Jawa yang basah oleh hujan dan dingin kabut, seorang lelaki kurus dengan tubuh yang digerogoti penyakit paru-paru tetap tegak menjadi panutan. Namanya Jenderal Sudirman—panglima besar pertama Republik Indonesia, yang namanya kini diabadikan di jalan-jalan besar, sekolah, hingga patung peringatan. Namun di balik segala penghormatan itu, ada kisah manusia biasa yang memilih menjadi luar biasa.
Sudirman bukan prajurit yang lahir dari barak militer murni. Ia seorang guru sebelum akhirnya mengabdikan diri pada Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Tubuhnya sering sakit, bahkan sejak muda paru-parunya melemah. Namun justru di balik tubuh yang rapuh itu, ia menyalakan semangat juang yang tak bisa dipadamkan.
Saat Belanda melancarkan Agresi Militer II pada Desember 1948, keadaan fisiknya amat parah. Dokter menyarankan ia beristirahat, bahkan tetap dirawat di rumah sakit. Tetapi, bagi Sudirman, meninggalkan pasukan berarti mengkhianati sumpah. Ia memilih ikut bergerilya. Tubuhnya ditandu, paru-paru sesak, tetapi suaranya tetap lantang memberi perintah dan semangat.
Dalam tandu sederhana itu, lahirlah salah satu simbol perlawanan terbesar bangsa ini: bahwa kemerdekaan tak sekadar dipertahankan dengan senjata, tetapi juga dengan keyakinan yang tak tergoyahkan.
“Tempat saya yang terbaik adalah di tengah-tengah anak buah saya,” katanya. Sebuah kalimat sederhana, namun menjadi teladan tentang kepemimpinan yang tidak hanya memerintah, tetapi juga menyatu dalam penderitaan pasukan.